Home ARTIKEL Krisis Identitas Bagi Remaja: Tak Dikenal Dalam Masyarakat Yang Berbudaya Ilmu

Krisis Identitas Bagi Remaja: Tak Dikenal Dalam Masyarakat Yang Berbudaya Ilmu

598
0
Ilustrasi

Krisis identitas di kalangan remaja merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh para orang tua di era modern. Tetapi dalam sejarah peradaban Islam hal tersebut tidak dijumpai. Justru banyak kisah tentang tokoh-tokoh agung seperti Imam Syafii, al-Jahiz, al-Biruni, Ibn Taimiyyah dan sebagainya saat remajanya menunjukkan betapa mereka jauh dari kecenderungan krisis tersebut.

Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud (Budaya Ilmu Satu Penjelasan, 1991) bahwa dalam budaya keluarga atau masyarakat yang cinta ilmu maka kaum remajanya tidak mengalami krisis identitas.

Masih menurut Wan Mohd Nor Wan Daud bahwa kaum remaja Muslim yang hidup ditengah masyarakat yang berbudaya ilmu mengukuhkan identitas kemanusiaannya dengan menimba ilmu pengetahuan yang berguna melalui pembacaan bahan yang bermutu, pergaulan dengan cendekiawan dan pengalaman yang bermakna.

Dicontohkan misalnya kisah remaja dari Ibn Sina yang pada usia 10 tahun telah khatam al-Qur’an dan banyak kitab kesusastraan. Dan pada usia 18 tahun telah menguasai semua bidang ilmu. Akhirnya Ibn Sina menjadi salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka khususnya sumbangannya yang besar dalam bidang filsafat dan kedokteran.

Toko Komputer Online

Jika direnungkan bahwa krisis identitas di kalangan remaja muncul di era modern saat dunia didominasi oleh peradaban Barat. Menurut M. Naquib al-Attas (Risalah Untuk Kaum Muslimin, 2001), bahwa salah satu sifat asasi peradaban Barat adalah berdasarkan filsafat bukan agama.

Dengan demikian maka kaum remaja tidak berada dalam situasi yang maksimal untuk bisa memahami orientasi hidup yang benar, tujuan hidup yang benar dan nilai-nilai kebenaran secara kuat. Akibatnya bagi sebagian remaja Muslim yang dijangkiti krisis identitas akut akan melupakan jati diri sebagai seorang Muslim. Hidupnya laksana burung beo yang mengikuti apa saja kecenderungan yang sedang berkembang tanpa pertimbangan agamanya sama sekali.

Krisis identitas di kalangan remaja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena ada kaitannya dengan eksistensi bangsa dan negara kita. Artinya masa depan bangsa dan negara kita sangat ditentukan oleh mereka. Di sinilah harus ada kepedulian dalam pembinaan budaya ilmu.

Menurut Wan Mohd Nor Wan Daud (Budaya Ilmu Satu Penjelasan, 1991), terdapat tiga pihak yang sangat menentukan dalam hal ini yakni para pemimpin politik, para pendidik dan para orang tua.

Semoga kerja sama di antara mereka ini dapat terjalin dengan baik untuk melestarikan budaya ilmu di kalangan bangsa ini sehingga remaja kita terbebas dari krisis identitas. Allohu Al-Musta’an.

Penulis: Bambang Purwanto

Kursus Privat Komputer dan Service Komputer Panggilan di Gombong dan Sekitarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here