Home BERITA TERKINI Ketika Menanam Pohon Tak Sekadar Seremoni

Ketika Menanam Pohon Tak Sekadar Seremoni

291
0

SEROMBONGAN orang bersemangat menapaki jalur menanjak di kawasan Gunung Kareumbi-Masigit yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung-Garut-Sumedang pada Sabtu (4/3) siang. Mereka masuk dari Kampung Leuwiliang, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung.

Cuaca sekitar cukup mendukung, cerah. Hawa juga sejuk. Sebagian jalur di kanan kiri diapit jurang dan tebing. Curam juga. Karenanya, agak capek memang, tapi tak terlalu membuat nafas tersengal-sengal. Semuanya terkendali, cocok untuk berolah gerak bagi yang lama diterpa kejenuhan rutinitas sehari-hari. Menyegarkan.

Dan selepas menghabiskan perjalanan kurang dari 500 meter, rombongan tiba di lokasi yang dituju. Di sebuah bidang miring, mereka kemudian melakukan penanaman pohon di kawasan konservasi tersebut. Sebuah kegiatan yang sudah “pasaran” memang. Sering. Kerap. Berkali-kali.

Namun karena sudah sering itu pula, ada perbedaan yang ingin ditawarkan. Rombongan tersebut tak sekadar memasukan bibit ke dalam lubang, diurug, lantas tuntas. Tunggu tumbuh, tapi tanpa pernah tahu kabar pastinya.

Toko Komputer Online

Dalam kegiatan di Kareumbi-Masigit itu, sedikit berbeda, karena mereka diajak pula untuk mengikuti perkembangan pohon yang ditanamnya. Jadi pihak yang berpartisipasi tak berhenti di sebatas seremoni tanam pohon saja, tapi “kontak batin”-nya tetap dijaga dengan ikhtiar wali pohon.

Melalui konsep tersebut, perkembangan pohon yang baru ditanam itu bakal dipantau. Dengan harapan, bibit-bibit itu tumbuh seperti yang diharapkan sehingga semakin menghijaukan hutan di kawasan tersebut.

Iim Suhendi (36), salah satu mandor wali pohon menjelaskan bahwa begitu pohon-pohon itu ditanam, pihaknya akan memastikan semuanya berada di bawah kontrol pemeliharaan. Pihaknya tak ingin proses penanaman pohon apalagi dilakukan secara massal dilakukan secara asal-asalan.

Formulasi Terbaik

Sebenarnya, katanya, langkah tersebut sudah dilakukan semenjak dari cara menanam. Metodenya pun diperoleh dari serangkaian pengalaman di lapangan sehingga menghasilkan formulasi terbaik.

Kemudian, mereka pun memutuskan waktu pemeliharaan tak lagi digelar dalam rentang waktu yang panjang. Frekuensinya harus sering. Setidaknya dalam tempo tiga bulan sekali, kontrol harus dilakukan terutama dalam membersihkan jalur pohon yang baru saja ditanam.

“Alhamdulillah dengan formulasi tersebut, kami bisa menekan tingkat kematian pohon terutama saat ada gerakan menanam. Sebelum ada cara ini, tingkat kematiannya bisa sampai 40 persen tapi sekarang sudah jauh berkurang banyak,” katanya.

Dengan alasan-alasan itu pula, rombongan tersebut yang berasal dari Serikat Karyawan (Sekar) Telkom menggelar rangkaian Ultah Ke-17-nya dengan cara menanam pohon secara berkesinambungan di kawasan Gunung Kareumbi-Masigit.

Total ada 3.327 pohon tumbuh, yang berarti sudah ada anggota Sekar sebanyak itu yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sabtu itu, 1.500 pohon ditanam. Menurut Ketua Umum Sekar Telkom, Asep Mulyana, pihaknya akan terus mendorong anggotanya yang total berjumlah 14 ribu untuk menjadi wali pohon.

“Dengan menjadi wali pohon, pohon-pohon yang kita tanam tak mati, tapi tumbuh karena ada masa pemeliharaan selama tiga tahun. Karenanya kami ingin pola seperti ini semakin dikembangkan, karena banyak manfaat yang bisa diperoleh, terutama secara lingkungan,” katanya.

Di kawasan Kareumbi-Masigit, sebelumnya pohon-pohon sempat ditebangi hingga luasan 150 hektare untuk kepentingan menyuplai produksi sebuah perusahaan. Mulai 2008, lahan itu mulai ditanami kembali. Banyak pihak yang tergerak dan terlibat untuk melakukan penghijauan kawasan tersebut. Pohon jenis kayu keras, dengan kemampuan serap air yang tinggi seperti rasamala, puspa, ki sireum, dan cangkudu pun ditebar. Hasilnya tampaknya sudah terasa.

“Sejak dua tahun terakhir, kabut mudah turun di hutan ini dan memberikan kesejukan ke kampung kami di Leuwiliang, air bagi kebutuhan warga juga pasoknya terus terjaga sekalipun kemarau. Pas pohon ditebangi itu, debit air berkurang apalagi kemarau, hawa juga lebih banyak terasa gerahnya, beda dengan sekarang, adem,” kata Iim.

Kondisi tersebut jelas disyukuri warga. Lebih dari itu, mereka semakin paham perlunya menjaga harmonisasi dengan alam. Lingkungan terjaga, lingkungan tempat tinggalnya juga ikut terkena dampak baiknya. Alam tampaknya tak pernah meminta lebih.

(Setiady Dwie / CN26 / SM Network)

Kursus Privat Komputer dan Service Komputer Panggilan di Gombong dan Sekitarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here