Home ARTIKEL Dunia literasi Nusantara sebagai penyambung proyek peradaban yang terputus dalam Perspektif Islam

Dunia literasi Nusantara sebagai penyambung proyek peradaban yang terputus dalam Perspektif Islam

364
0
Ilustrasi

Menurut Fatah Syukur NC (Sejarah Peradaban Islam, 2009) bahwa peradaban Islam adalah unit pencapaian budaya umat manusia yang dengan bimbingan agama mampu melahirkan tatanan sosial politik dan hukum, bahasa dan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi. Ibarat sebuah rantai maka peradaban Islam terdiri dari mata rantai yang banyak.

Salah satunya adalah peradaban Islam Nusantara. Menurut Khalif Muammar (Faktor Kegemilangan Tamadun Islam: Pengajaran Dari Masa Lalu dalam Jurnal Hadhari, 2009) bahwa mata rantai tersebut bermula di Madinah dan berakhir di Aceh atau Demak di Nusantara pada abad ke-16 dan 17.

Namun malangnya proyek peradaban di Nusantara terhenti dengan kehadiran penjajah. Untuk itu perlu dicari jawabannya agar mata rantai tersebut bisa disambung kembali saat ini. Barangkali kebangkitan Dunia Literasi Nusantara bisa dipertimbangkan sebagai alternatif jawabannya. Sehingga proyek peradaban yang terputus tersebut bisa disambung kembali.

Masih menurut Khalif Muammar bahwa Rasulullah SAW memberi tumpuan yang besar pada pembinaan generasi unggul. Baginda sama sekali tidak menekankan pembangunan infrastruktur.

Toko Komputer Online

Adalah satu kebijaksanaan apabila beliau memahami bahwa melalui pembinaan generasi yang unggul, maka generasi ini akan mewujudkan kecermelangan demi kecermelangan dalam berbagai bidang. Konsep inilah yang pada hari ini disebut dengan pembangunan sumber daya manusia.

Sejalan dengan pengamatan di atas menurut Akram Dhiyauddin Umari (Masyarakat Madani Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi, 1999) bahwa sejarawan Muslim tidak menilai suatu peradaban hanya berdasarkan pencapaian material semata. Ia juga mempertimbangkan batas perwujudan tujuan dasar yang ditentukan Allah untuk makhluk-Nya.

Dengan demikian, peradaban yang besar adalah peradaban yang menciptakan lingkungan yang cocok –secara politik, sosial, ekonomi, kultural, dan material– dan mengantarkan seseorang bisa mengamalkan perintah-perintah Allah dalam seluruh aktifitasnya, tanpa dirintangi oleh institusi-institusi masyarakat.

Institusi-institusi tersebut tidak boleh menyebabkan kontradiksi antara keyakinan agama dan perbuatan, atau menekan seseorang untuk menyimpang dari kewajiban-kewajiban terhadap Allah.

Secara lebih akurat ada baiknya diperhatikan penelitian yang dilakukan oleh M.M. Al-‘Azami. Menurut cendekiawan Muslim terkemuka tersebut dalam salah satu bukunya “Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjsnjian Baru”, dikatakan bahwa saat Nabi Muhammad di Madinah, beliau membuat Suffa di dalam masjid yang berfungsi sebagai tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan, dan tempat tinggal.

Lebih kurang sembilan ratus sahabat menerima tawaran tersebut. Saat Nabi Muhammad mengajarkan al-Qur’an, yang lainnya seperti Abdullah bin Said bin al-‘As, Ubada bin as-Samit, dan Ubay bin Ka’ab mengajarkan dasar-dasar penting membaca dan menulis.

Dalam catatan Akram Dhiyauddin Umari (Masyarakat Madani Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi, 1999) bahwa ahlu Suffa mencurahkan perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan terus menetap di dalam masjid untuk beribadah, mereka terbiasa dengan kesederhanaan dan asketisme.

Dalam khalwat itu, mereka gunakan untuk shalat, membaca al-Qur’an, mengkaji ayat demi ayat secara bersama dan berdzikir. Sebagian mereka belajar menulis. Tetapi keterlibatan mereka yang begitu intens dalam ilmu pengetahuan dan ibadah tidak menghalangi mereka untuk ikut berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan jihad.

Prestasi umat Islam dalam memajukan dunia literasi yang berujung pada kemajuan ilmu pengetahuan tidak diperoleh secara kebetulan melainkan dengan kerja keras. Menurut Siti Maryam, dkk (Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, 2009) bahwa peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Daulah Abbasiyah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju. Kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya madzhab-madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir.

Tetapi menurut Khalif Muammar (Faktor Kegemilangan Tamadun Islam: Pengajaran Dari Masa Lalu dalm Jurnal Hadhari, 2009) bahwa peradaban Islam yang berpusat di Andalusia sering diangkat sebagai model terbaik karena meninggalkan kesan dan warisan yang luar biasa hingga hari ini. Ringkasnya Andalusia besar karena dari rahimnya telah lahir peradaban lain yang juga besar, yaitu peradaban Barat.

Berkaca dari masa lalu tersebut maka saat ini para pegiat dunia literasi di Nusantara memiliki peluang yang besar untuk menyambung proyek peradaban yang terputus itu. Disinilah menjadi tantangan tersendiri bagi Komunitas Penulis Kreatif sebagai salah satu komunitas yang berkhidmat dalam pengembangan dunia literasi khususnya di negeri ini di samping di luar negeri.

Semoga kerja besar ini dapat dilakukan dengan baik sebagai kontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia. Sehingga terbentuknya manusia Indonesia yang adil dan beradab bukan isapan jempol belaka. Allohu Al-Musta’an.

Penulis: Bambang Purwanto

Kursus Privat Komputer dan Service Komputer Panggilan di Gombong dan Sekitarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here